Mengenai Saya

Manuasia ciptaan Tuhan yang mendiami sebuah rumah dan bersekolah Di SMP MM :D

Sabtu, 03 Desember 2011

Flippy adalah karakter berwarna hijau muda dari serial animasi Happy tree friends. Ia adalah veteran perang. Pada tiap episode, ia mengenakan pakaian perang. Terdapat bukti bahwa ia bertempur pada saat perang vietnam. Jika Flippy melihat sesuatu yang mengingatkannya pada perang, ia menjadi gila dan membunuh semua orang disekitarnya dan percaya bahwa ia masih berperang. Ciri-ciri ia berubah adalah: warna matanya berubah, biasanya kuning atau hijau, suaranya berubah dari tinggi dan lucu menjadi rendah dan jahat, dan giginya menjadi bercabang. Ia lemah dengan air. Dia pernah bekerja menjadi karyawan taman hiburan-dan akhirnya malah mengacau semuanya. Biarpun begitu, Flippy sangat baik hati. Rumah Flippy rapi dan banyak barang-barang peninggalan perang. Ia suka mendengkur seperti kucing saat tidur, untuk menenangkan sisi jahatnya, Flippy minum obat penenang yang bahaya bila diminum terlalu banyak.pada masa perangnya,dia secara tak sengaja membunuh teman perangnya yaitu Snerkey dan mouse kabow. Kejadian inilah yang               mengakibatkan kepribadian jahatnya muncul.

Kamis, 01 Desember 2011

Miku Hatsune ni bukan hanya anime aja tapi penyanyi virtual lagunya banyak banget Misal:
1.scissors hand
2.Ievan Polka d.l.l
banyak kok cari aja Miku rambut panjang ,umur 17 Miku ggk hanya sendiri kok tapi sama yang lain klo mau tauuuuuuuuuuuuuuuuuu..............
Cari Di GOOGLE SANG IDAMAN HATIIIIIIIII :D :D

Jumat, 18 November 2011

Idiotisme Slide Show Slideshow Slideshow

Idiotisme Slide Show Slideshow Slideshow: TripAdvisor™ TripWow ★ Idiotisme Slide Show Slideshow Slideshow ★ to Indonesia. Stunning free travel slideshows on TripAdvisor

Kamis, 17 November 2011

Hari Pahlawan Bukan Sekedar Refleksi

Oleh: Ahmad Ikhwan Susilo



Barang siapa sungguh menghendaki kemerdekaan buat umum,
segenap waktu ia harus siap sedia dan ikhlas buat menderita
“kehilangan kemerdekaan diri sendiri”
(Dari Penjara ke Penjara, Tan Malaka)
Hampir saban 10 November kita selalu mengibarkan bendera satu tiang penuh. Upacara penghormatan pun dilakukan untuk memperingati hari Pahlawan. Seremonial tahunan ini menjadi satu refleksi bagi kita semua untuk mengenang jasa-jasa besar para pahlawan Indonesia yang dengan ikhlas mengorbankan segenap jiwa dan raga yang dimiliki sampai tetes darah penghabisan. Semua itu demi satu tujuan: Kemerdekaan! Merdeka dari penghisapan, merdeka dari penjajahan, dan merdeka dari penindasan kolonial. Soekarno pernah berkata bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah lupa akan jasa para pahlawannya. Maka dari itu, jangan pernah sekalipun melupakan sejarah.
Sebagaimana laiknya sebuah refleksi, peringatan hari pahlawan ini tak cukup sekedar kita memasang bendera satu tiang penuh dan mengikuti upacara kebesaran yang dipersiapkan, dihadiri para pejabat, didengarkan pidatonya, lantas selesai begitu saja tanpa ada satu nilai. Dan hal ini dari tahun ke tahun terasa semakin kurang dihayati dan menjadi kosong makna karena peringatan ini cenderung bersifat seremonial belaka.
Lebih dari itu, refleksi ini menjadi satu permenungan kita bersama, sejauh mana kita sebagai angkatan muda(baca: mahasiswa), kaum intelektual terpelajar mampu menjadi bagian dalam proses pembangunan bangsa ini ke depan? Hal signifikan apa saja yang telah kita perbuat di dalam arus persaingan yang go global ini? karena seperti apa yang dikatakan oleh Soe Hok Gie bahwa kitalah generasi yang akan memakmurkan Indonesia.
Memang secara legal formal bangsa ini telah merdeka, tetapi bila kita lihat secara hakikat ternyata belum sepenuhnya kita merdeka. Penjajahan yang kita alami sekarang tidak sama dengan apa yang dialami oleh arek-arek Suroboyo ketika melawan Inggris di Surabaya 63 tahun silam dengan menggunakan beberapa pucuk senjata dan bambu runcing. Bentuk penjajahan yang kita alami saat ini tidak bermuka garang melainkan berwajah lembut. Kita dijajah secara sistem!
Tengoklah berapa juta massa rakyat Indonesia yang terbelenggu dalam kemiskinan, mereka yang tidak mampu sekolah, pengangguran yang menumpuk, petani yang dirampas tanahnya, buruh dengan gaji rendah, belum lagi kanker korupsi yang masih menjamur di tubuh birokrasi negeri ini. Tan Malaka membuat sebuah illustrasi yang menyedihkan tentang keadaan rakyat. Sebuah kenyataan yang ditulis puluhan tahun lampau namun masih dekat dengan kenyataan yang sekarang kita alami: Beberapa juta jiwa sekarang hidup dalam keadaan ‘pagi makan, petang tidak’. Mereka tidak bertanah dan beralat lagi, tidak berpengharapan di belakang hari. Kekuasaan atas tanah pabrik, alat-alat pengangkutan dan barang perdagangan, kini semuanya dipusatkan dalam tangan beberapa sindikat...demikianlah rakyat Indonesia tambah lama tambah miskin sebab gaji mereka tetap seperti biasa(malahan kerapkali diturunkan), sementara barang-barang makanan semakin mahal...
Hal inilah yang secara kongkrit harus kita jawab bersama. Bangsa Indonesia saat ini membutuhkan pahlawan-pahlawan baru untuk mewujudkan kehidupan massa rakyat yang demokratis secara politik, adil secara sosial, sejahtera secara ekonomi, dan partisipatif secara budaya.
Pengalaman-pengalaman besar harus dijemput bukan hanya melalui analisa tapi juga karya-karya penting untuk menggugah kesadaran yang sudah lama terlelap. Di dunia pemikiran kita bukan sekedar membutuhkan gagasan-gagasan baru melainkan juga ‘alat baca’ yang berpihak atas massa rakyat yang tertindas. Intelektual adalah bagian dari arus massa tertindas dan sebaiknya mengerti, memahami, dan menyelami kehidupan mereka. Hal ini tak akan bisa dimengerti jika mengetahui kehidupan hanya sebatas kegiatan-kegiatan pelatihan, workshop, rapat, seminar, diskusi atau penelitian ‘pesanan’. Kegiatan itu hanya akan meningkatkan pendapatan bukan pemahaman atas kenyataan sosial. Membuang keyakinan lama mungkin jadi syarat utama menuju pada tugas serta mandat seorang intelektual terpelajar.
Pahlawan-Pahlawan Baru
Sebuah keniscayaan memang apabila setiap jaman akan melahirkan anak jamannya masing-masing. Disinilah peran generasi muda tak pernah putus dari sejarah bangsa ini. Jika kita menilik ke belakang, dulu kaum terpelajar yang memperoleh kesempatan untuk menikmati pendidikan mempunyai satu cita-cita besar bagaimana bangsa ini bisa merdeka dari belenggu penindasan kolonial. Mereka tidak hanya mempunyai gagasan besar tentang perubahan, tidak hanya berhenti pada satu forum diskusi, tetapi ada satu tindakan riil bagaimana melakukan proses transformasi nilai terhadap massa rakyat yang tertindas. Jalan itupun mereka dapatkan dengan cara mengorganisasikan diri.
Tidak hanya itu, mereka juga membuat terbitan-terbitan cetak dalam proses transformasi nilai kepada massa rakyat. Perlawanan terhadap Belanda memasuki babak baru. Tak sekedar dengan rencong dan keris, tetapi juga dengan pena dan kertas (baca: ilmu pengetahuan). Itulah sebabnya Ben Anderson, lewat esai panjang Immagined Communities, menulis: Selain runtuhnya kekuasaan universal (gereja Katolik-Roma) dan kerajaan-kerajaan dinastik, berkembangnya penerbitan dan percetakan yang memungkinkan tulisan para pemimpin pergerakan makin banyak dibaca khalayak adalah elemen terpenting dari kelahiran nasionalisme.
Tugas kita saat ini adalah memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, rakyat telah mengorbankan nyawanya. Kita wajib menundukkan kepala untuk mengenang jasa-jasa mereka. Karena itulah hari Pahlawan harus kita peringati dan refleksikan.
Namun, kepahlawanan tidak hanya berhenti di sana. Dalam mengisi kemerdekaan pun kita dituntut untuk menjadi pahlawan. Bukankah arti pahlawan itu adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran? Bukankah makna pahlawan itu adalah pejuang gagah berani? Bukankah makna kepahlawanan tak lain adalah perihal sifat pahlawan seperti keberanian, keperkasaan, dan kerelaan berkorban?
Saat negara nasibnya terseok seperti sekarang dimana rakyat hidupnya diperas, perubahan hanya jadi menu diskusi, saat itulah maka gerakan progresif kaum intelektual terpelajar menjadi satu kebutuhan mendesak. Seorang terpelajar bukan semata-mata sosok yang mencintai pengetahuan, tapi bagaimana dapat dan mampu memberikan gagasan-gagasan tentang perubahan. Karena itulah, solusi-solusi baru dan tindakan konkrit untuk perubahan sosial mutlak dibutuhkan.
Saya masih ingat jelas ungkapan satir yang pernah dituliskan Romo Mangunwijaya: Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh? Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka. Semoga ini bisa menjadi permenungan kita bersama – sebagai ‘intelektual terpelajar’ – dalam merefleksikan peringatan hari Pahlawan dan mengisi kemerdekaan ini dengan penuh makna.

Mitos 11-11-11

   
Tergerak untuk mengetahui apa makna di balik angka 11-11-11. Bertepatan dengan tanggal hari ini. Jika dibilang angka ini hanya terjadi seumur hidup sekali, semua orang juga tahu itu. Apa bedanya dengan tanggal-tanggal yang lain? Semua tanggal hanya terjadi seumur hidup sekali. Tanggal 01-02-03 juga hanya terjadi seumur hidup sekali.
Keunikan tanggal 11-11-11 ini selain nomor cantik (karena terdiri dari deretan angka 1), juga dipermasalahkan dengan mitos-mitos tertentu. Lantas apa yang spesial di tanggal 11-11-11 ini? Mari kita simak analisis dari pakar Numerologist (pakar yang mencari arti mistis di balik angka-angka).
Pada abad pertengahan, numerologists percaya semua nomor memiliki arti. Dalam kata-kata seorang pakar abad ke-16, Petrus Bungus, angka 11 tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang transenden atau mistis (divine things). Karena angka 11 terjebak antara nomor 10 dan 12 yang diyakini sebagai angka istimewa.
“Dengannya angka 11 adalah bermakna kejahatan murni (pure evil), dan mewakili orang-orang berdosa. Artinya, bukan pertanda baik untuk 11 November 2011, tanggal ketika tiga 11 akan menyelaraskan untuk pertama kalinya dalam satu abad”, pendapat Bungus.
Berkaitan dengan pendapat Numerologist tersebut, saat ini ada sebuah film horor yang baru berjudul “11-11-11,” (untuk melihat review dan trailer filmnya klik di sini). Mengisahkan cerita menakutkan yang akan terjadi pada tanggal ini. Karakter film ini menyebutnya dengan istilah “fenomena 11:11,” kecenderungan untuk melihat jam lebih sering di 11:11 dibandingkan pada waktu hari yang lain. Pada hari kesebelas dari bulan kesebelas tahun kesebelas, gerbang gelap (neraka) akan terbuka dan darah tak berdosa akan tumpah.
Fenomena 11:11 ini memang banyak dibincangkan dalam kehidupan nyata, banyak forum diskusi online yang mencari tahu apa arti dari nomor ini. Orang mengatakan mereka merasa dihantui oleh 11s, yang tampaknya menakutkan bagi mereka. Ada juga yang memaknainya sebagai tanggal yang tampak menyenangkan.
Di sisi lain, beberapa modern numerologists menganggap 11/11/11 menguntungkan, dan menurut sumber-sumber berita lokal di seluruh negeri, banyak pasangan telah merencanakan untuk menikah pada hari ini. Di Indonesia saja, hari ini di Jakarta akan ada 1000 pasangan yang akan menikah. Belum lagi di kota-kota lain.
Selain itu, nomor 11 juga merupakan angka favorit dari penjudi–khususnya pemain blackjack dan Keno.
Adapun pendapat psikolog menyoroti angka ini dengan menyebutnya sebagai kasus klasik dari “apophenia,” atau kecenderungan manusia untuk menemukan makna atau pola dalam data yang terjadi secara acak. Kondisi ini terjadi secara sendirinya, karena ketika kita lebih sadar terhadap sesuatu - seperti memaknai makna 11/11/11 - maka akan semakin sering kita akan melihat dalam dunia di sekitar kita, dan dengan demikian kita semakin yakin bahwa pola tersebut adalah nyata. Persis seperti hantu. Hantu itu tidak ada, tetapi ketika kita yakin, maka akan begitu nampak pada yang meyakininya. Itulah apophenia.
Menurut Alan Lenzi, profesor studi keagamaan di University of the Pacific yang mempelajari naskah-naskah numerologi dari kitab-kitab suci, ia menyebutkan bahwa ini terkait dengan kecenderungan alami manusia dalam mencari makna terhadap sesuatu. “Ilmuwan telah menunjukkan bahwa otak manusia terprogram untuk mencari pola yang bermakna dalam data sensoris yang dikumpulkan dari dunia”. Dalam kebanyakan situasi, aspek kognitif ini membantu kita: memungkinkan kita untuk mengambil informasi penting dari latar belakang angka acak. Tapi kadang-kadang berlebihan dengan mencari pola pada angka-angka. Setelah ditemukan, pola-pola tersebut kemudia dijiwai dengan makna imajinatif.
Peristiwa memaknai angka 11/11/11 juga terjadi pada beberapa tahun lalu yang memakna angka 10/10/10. Kemudian angka 09/09/09 dan terus akan begitu. Mungkin tahun depan akan sama angka 12/12/12. Karena manusia cenderung menemukan makna di balik hal-hal yang menurut manusia unik. Pemaknaan itu wajar sebatas memberikan efek positif. Tetapi jika dikaitkan dengan hal-hal mistis, seperti pendapat para pakar di atas, tidak ada hubungannya sama sekali.
Peristiwa besar bagi rakyat Indonesia juga akan terjadi pada tanggal 11/11/11, setidaknya ada 2 peristiwa: vote komodo akan diumumkan hari ini dan pembukaan Sea Games di Palembang. Jika kemudian Komodo menang maka pasti akan menggiring ke pemaknaan bahwa tanggal ini tanggal hoki, tetapi jika sebaliknya maka akan dimaknai sebagai “gerbang neraka”. Atau bisa jadi jika menang sekalipun, oleh sebagian orang akan dimakna tetap sebagai “gerbang neraka”. Begitu pun dengan acara Sea Games. Jika sukses maka tanggal ini akan dimaknai sebagai tanggal hoki, tetapi jika ada peristiwa aneh maka akan dimaknai “gerbang neraka muncul di Palembang”..woow seraam.**[harja saputra]